Pertemuan 1

pembahasan silabus perkuliahan dan mengakomodir masukan dari mahasiswaCOVER

pengumuman Bimbingan Akademik

Yth. bapal/Ibu…
di ….
diharapkan kumpul pada hari senin. silahkan mendownload lampiran

Integrasi Pendidikan Nilai dalam Membangun Karakter Siswa di Sekolah Dasar

Integrasi Pendidikan Nilai dalam Membangun Karakter Siswa di Sekolah Dasar

Oleh: Ganes Gunansyah, M.Pd*

Abstraksi

Ketentuan dalam pasal 1 ayat 1 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan dasar sangat menitikberatkan pada pembinaan aspek kepribadian, karakter dan moral. Esensi pendidikan dibangun di atas kesadaran yang diorientasikan untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki  anak didik untuk diwujudkan dalam dimensi agama (spritual keagamaan), dimensi personal (pengendalian diri, kepribadian dan kecerdasan), dimensi susila (akhlak mulia) dan dimensi sosial (bermanfaat bagi diri, masyarakat, bangsa dan negara). Integrasi pendidikan yang sarat dengan nilai dan pembentukan karakter diperlukan untuk membekali peserta didik dalam mengantisipasi tantangan ke depan yang dipastikan akan semakin berat dan kompleks. Guru sebagai pengembang kurikulum selanjutnya dituntut untuk mampu secara terampil menghadirkan suasana dan aktivitas pembelajaran yang berorietansi pada penanaman dan pembinaan kepribadian, watak dan karakter. Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran di SD/MI diharapkan akan jauh lebih bermakna (meaningfull) baik bagi pendidik maupun anak didik sebagai dua pelaku utama pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan yang berangkat dan didasarkan pada nilai diyakini akan melahirkan para lulusan yang berkepribadian, berkarakter dan berwatak baik. Karena itu, tugas utama pendidikan dasar adalah membangun karakter anak didik yaitu bertujuan agar anak didik sejak dini tidak gagal menjadi sosok manusia seutuhnya.

Kata kunci: Pendidikan Nilai, Karakter, Kepribadian

A. Pendahuluan

Kandungan substansi yang tertuang dalam ketentuan pasal 1 ayat 1 UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyebutkan dengan jelas bahwa penyelenggaraan pendidikan nasional didasarkan pada orientasi dimensi nilai spiritual keagamaan, akar budaya nasional, responsif terhadap tuntutan dan tantangan perubahan jaman yang berkembang demikian cepat. Ketentuan lain yang terdapat dalam Bab II Pasal 3 menyebutkan pula bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Penegasan yang menyebutkan bahwa pendidikan berfungsi untuk mengembangkan pembinaan watak sebagai tujuan (output) penyelenggaraan pendidikan tentu akan berkaitan dengan seperangkat acuan nilai dan norma yang berkembang dan dijadikan pegangan oleh masyarakat. Nilai sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dan norma yang berfungsi mengatur hak dan kewajiban secara benar dan bertanggungjawab tentu harus menjadi panduan bagi pembinaan peserta didik. Muara dari usaha tersebut ditegaskan dengan kalimat bahwa tujuan pendidikan nasional  untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki untuk menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan dasar sebagai salah satu jenjang pendidikan dalam sistem pendidikan nasional diibaratkan sebagai tiket masuk atau “paspor” untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Gagalnya pendidikan pada tahap ini terutama dalam pembinaan sikap/nilai diyakini akan berdampak sistemik terhadap pendidikan berikutnya. Orientasi penyelenggaraan pendidikan dasar sangat menekankan pada pembinaan  kepribadian, watak dan karakter anak. Karena itu, integrasi pendidikan yang sarat dengan nilai dan pembentukan karakter diperlukan untuk membekali peserta didik dalam mengantisipasi tantangan ke depan yang dipastikan akan semakin berat dan kompleks. Guru sebagai pengembang kurikulum selanjutnya dituntut untuk mampu secara terampil menghadirkan suasana dan aktivitas pembelajaran yang berorietansi pada penanaman dan pembinaan kepribadian, watak dan karakter.

B. Pembahasan

1. Hakikat Pendidikan Nilai

Kebutuhan akan penanaman pendidikan nilai mulai nampak dan dirasakan penting setelah maraknya berbagai bentuk penyimpangan asusila, amoral di tengah masyarakat. Hampir setiap hari ada saja pemberitaan di media cetak dan elektronik tentang pembunuhan, pemerkosan, seks bebas di luar nikah, aborsi, peredaran dan pemakaian narkoba, bahkan pernah dilansir kasus pemerasan yang dilakukan geng anak usia sekolah dasar (SD). Tentu hal ini membuat gelisah dan cemas terutama akan dirasakan oleh para orangtua termasuk pihak lembaga sekolah yang mengemban tugas melakukan untuk mendidik, melatih dan membimbing anak didiknya. Ini persoalan serius dan perlu mendapat perhatian ekstra khususnya bagi pelaku-pelaku dunia pendidikan.

Ketidakseimbangan desain pendidikan yang hanya memfokuskan pada pencapaian aspek intelektual atau ranah kognitif semata dan mengambaikan aspek penanaman dan pembinaan nilai/sikap diduga sebagai penyebab munculnya degradasi atau demoralisasi terutama yang dialami oleh anak sekolah. Gaffar (Sauri: 2009) menyebutkan bahwa pendidikan bukan hanya sekedar menumbuhkan dan mengembangkan keseluruhan aspek kemanusiaan tanpa diikat oleh nilai, tetapi nilai itu merupakan pengikat dan pengarah proses pertumbuhan dan perkembangan tersebut.

Nilai sebagai sesuatu yang berharga, baik, luhur, diinginkan dan dianggap penting oleh masyarakat pada gilirannya perlu diperkenalkan pada anak. Sanjaya (2007) mengartikan nilai (value) sebagai norma-norma yang dianggap baik oleh setiap individu. Inilah yang menurutnya selanjutnya akan menuntun setiap individu menjalankan tugas-tugasnya seperti nilai kejujuran, nilai kesederhanaan, dan lain sebagainya. Mulyana (2004) mendefinisikan pendidikan nilai sebagai bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami nilai-nilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya. Pendidikan nilai tidak hanya merupakan program khusus yang diajarkan melalui sejumlah mata pelajaran, akan tetapi mencakup keseluruhan program pendidikan. Nursid Sumaatmadja (2002) menambahkan bahwa pendidikan nilai ialah upaya mewujudkan manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, manusiawi dan  berkepedulian terhadap kebutuhan  serta  kepentingan orang lain; yang intinya menjadi manusia yang terdidik baik terdidik dalam imannya, ilmunya  maupun akhlaknya serta menjadi warga negara dan dunia yang baik (well educated men and good citenship).

Sebagai perbandingan, penerapan konsep-konsep pendidikan nilai menurut Sofyan Sauri (2007) pernah diterapkan pada sebuah lembaga pendidikan di Thailand dengan menggunakan suku kata yang terdapat dalam kata EDUCATION yang memiliki arti sebagai sebagai berikut.

(E) Singkatan untuk Enlightenment (pencerahan). Ini adalah proses pencapaian pemahaman dari dalam diri atau bathin melalui peningkatan kesadaran menuju pikiran super sadar yang akan memunculkan intuisi, kebijaksanaan, dan pemahaman.

(D) Singkatan untuk Duty and Devotion (tugas dan pengabdian). Pendidikan harus membuat siswa menyadari tugasnya dalam hidup. Selain memiliki tugas atau kewajiban yang terhadap orang tua dan keluarga, siswa juga memiliki kewajiban yang berlandaskan cinta kasih dan belas kasih untuk melayani dan menolong semua orang di masyarakat dan di dunia.

(U) Singkatan untuk Understanding (pemahaman). Ini bukan hanya mengenai pemahaman terhadap mata pelajaran yang diberikan dalam kurikulum nasional tetapi juga penting untuk memahami diri sendiri.

(C) Singkatan untuk Character (karakter). Guru mesti membentuk karekter yang baik pada diri siswa. Seorang yang berkarakter adalah seorang yang memiliki kekuatan moral dan lima nilai kemanusiaan yaitu Kebenaran, Kebajikan, Kedamaian, Kasih sayang dan tanpa Kekerasan. Nilai kemanusiaan tersebut harus terpadu dalam pembelajaran di kelas.

(A) Singkatan untuk Action (tindakan). Para siswa kini belajar dengan giat dan menuangkan pengetahuan yang dipelajarinya dalam ruang ujian dan keluar dengan kepala kosong. Pengetahuan yang mereka peroleh tidak diterapkan dalam tindakan. Pendidikan seperti itu tak berguna. Apapun yang dipelajari siswa mesti diterapkan dalam praktek. Model pembelajaran yang baik mesti membuat hubungan antara yang dipelajari dan situasi nyata dalam hidup. Hal ini akan memungkinkan siswa mengaplikasikan pengetahuan ke dalam hidup mereka sendiri.

(T) Singkatan untuk Thanking (berterima kasih). Siswa mesti belajar berterima kasih kepada orang-orang yang telah membantu mereka. Di atas segalanya adalah orang tua yang telah melahirkan dan mengasuh mereka. Siswa harus mengasihi dan menghormati orang tua mereka. Selanjutnya siswa harus berterima kasih kepada guru-guru, karena siswa memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan melalui guru-guru. Maka siswa mesti mengasihi dan menghormati guru. Demikian pula, siswa telah mendapatkan banyak hal dari masyarakat, dari bangsa, dari dunia, dan alam. Siswa mesti selalu berterima kasih kepada semua hal.

(I) Singkatan untuk Integrity (Integritas).. Integritas adalah sifat jujur dan karakter menjunjung kejujuran. Siswa mesti tumbuh menjadi seseorang yang memiliki integritas, yang bisa dipercaya untuk menjadi pemimpin di bidangnya masing-masing.

(O) Singkatan untuk Oneness (kesatuan). Pendidikan mesti membantu siswa melihat kesatuan dalam kemajemukan. Apakah kita memiliki agama atau kepercayaan yang berbeda, warna kulit dan ras yang berbeda. Kita mesti belajar hidup damai dan harmonis dengan alam.

(N) Singkatan untuk Nobility (kemuliaan). Kemuliaan adalah sifat yang muncul karena memiliki karakter yang tinggi atau mulia. Kemuliaan tidak timbul dari lahir tetapi muncul dari pendidikan.Jadi, kemuliaan terdiri dari semua nilai-nilai yang dijelaskan di atas.

Berdasarkan konsep-konsep yang telah dikemukakan tadi, kunci pendidikan nilai terletak pada penanaman nilai-nilai luhur ke dalam diri peserta didik. Nilai-nilai tersebut diantaranya berupa (a) kecintaan terhadap Tuhan dan segenap ciptaanNya (love Allah, trust, reverence, loyalty); (b) tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian (responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness); (c) kejujuran/amanah dan arif (trustworthines, honesty, and tactful); (d) hormat dan santun (respect, courtesy, obedience); (e) dermawan, suka menolong dan gotong-royong/kerjasama (love, compassion, caring, empathy, generousity, moderation, cooperation); (f) percaya diri, kreatif dan pekerja keras (confidence, assertiveness, creativity, resourcefulness, courage, determination, enthusiasm); (g) kepemimpinan dan keadilan (justice, fairness, mercy, leadership); (h) baik dan rendah hati (kindness, friendliness, humility, modesty) toleransi, kedamaian dan kesatuan (tolerance, flexibility, peacefulness, unity)

Penanaman nilai-nilai tersebut memerlukan pembiasaan. Artinya sejak usia dini termasuk pada tingkatan anak sekolah dasar, anak mulai dibiasakan mengenal mana perilaku atau tindakan yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dilakukan mana yang tidak sehingga diharapakan pada gilirannya menjadi sebuah kebiasaan (habit). Perlahan-lahan sikap/nilai-nilai luhur yang ditanamkan tersebut akan terinternalisasi ke dalam dirinya dan membentuk kesadaran sikap dan tindakan sampai usia dewasa.

Waini Rasydin (2007) mengemukakan bahwa konsep pendidikan dasar pada dasarnya ialah pendidikan nilai, di mana tujuannya ialah untuk memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan potensi dasar yang dimiliki dan diorientasikan untuk pembinaan dan pengembangan kepribadian, watak, dan karakter manusia seutuhnya. Sementara pembinaan aspek intelektual hanya sebagai peletak dasar saja berupa pengetahuan-pengetahuan dasar dan bukan menjadi orientasi utama. Peningkatan kemampuan intelektual nantinya akan dikembangkan lebih lanjut pada jenjang pendidikan berikutnya.

Hal pertama yang harus diketahui dalam penyelenggaraan pendidikan dasar ialah mengenal, menggali dan mengembangkan potensi dasar yang dimililki anak usia Sekolah Dasar (SD/MI). Sumaatmadja, (2005) menjelaskan bahwa pada prinsipnya anak sebagai individu dan calon anggota masyarakat merupakan potensi yang berkembang dan dapat dikembangkan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa setiap individu memiliki empat dasar mental yaitu meliputi dorongan ingin tahu (sense of curiosity), minat (sense of interest), dorongan ingin melihat (sense of reality), dorongan menemukan sendiri hal-hal dan gejala-gejala dalam kehidupan (sense of discovery). Dasar mental tadi merupakan modal yang sangat berharga bagi pelaksanaan dan penyelenggaran pendidikan. Oleh karena itu, harus dipupuk dan dikembangkan secara positif bagi kepentingan anak sendiri. Selanjutnya sebagai anggota masyarakat, dasar mental yang dimiliki harus dibina ke arah tanggungjawab anak tersebut sebagai insan sosial. Kewajaran kehidupan mereka dapat dikatakan normal, bila dasar mental mereka serasi dengan kondisi dan situasi kehidupan sosialnya.

2. Kurikulum dan Pembelajaran di Sekolah Dasar

Ketentuan UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 37 ayat 1 menyebutkan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: (a) pendidikan agama, (b) pendidikan kewarganegaraan, (c) bahasa, (d) matematika, (e) ilmu pengetahuan alam,  (f) ilmu pengetahuan sosial, (g) seni dan budaya, (h) pendidikan jasmani dan olahraga, (i) keterampilan/kejuruan serta (j) muatan lokal. Dalam pengembangan kurikulum tersebut, selanjutnya guru merancang dan merumuskan secara operasional dengan tetap mengacu pada standar nasional pendidikan yang ditujukan untuk kepentingan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Dalam implementasinya, pengembangan kurikulum khususnya pada jenjang pendidikan dasar (SD/MI) disusun dengan tetap disesuaikan  untuk kepentingan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan aspek-aspek mendasar antara lain: (a) peningkatan iman dan takwa, (b) peningkatan akhlak mulia, (c) peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik, (d) keragaman potensi daerah dan lingkungan, (e) tuntutan pembangunan daerah dan nasional, (f) tuntutan dunia kerja, (g) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (h) agama, (i) dinamika perkembangan global; dan (j) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

Integrasi pendidikan nilai ke dalam pembelajaran SD/MI melalui penanaman dan pembinaan pendidikan karakter, watak dan kepribadian tidak diartikan sempit hanya sebagai domain pendidikan agama atau pendidikan kewarganegaraan melainkan terintegrasi dan terinternalisasi ke dalam seluruh mata pelajaran seperti IPS, IPA, bahasa, matematika, seni dan budaya dan pendidikan jasmani dan kesehatan. Orientasi pendidikan nilai melalui sebaran mata pelajaran tersebut ialah berupaya menggali, menemukan, memahami, mengaplikasikan dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dari sebaran mata pelajaran tersebut untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran di SD/MI akan jauh lebih bermakna (meaningfull) baik bagi pendidik maupun anak didik sebagai dua pelaku utama pendidikan.

Setiap mata pelajaran pada prinsipnya memiliki bahan ajar (instructional materials) berdimensi pengetahuan, keterampilan dan sikap/nilai.  Depdiknas (2006) mengartikan bahan ajar atau materi pembelajaran secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Mata pelajaran apapun termasuk yang ada di SD/MI sarat dengan kandungan dimensi penanaman dan pembinaan sikap/nilai yang melekat dalam setiap aktivitas pembelajaran. Jadi, dalam hal ini pendidikan nilai atau budi pekerti tidak lagi terspesialisasi pada mata pelajaran tertentu yang seringkali pada prakteknya terjebak pada tradisi hafalan atau sekedar “tahu”.

Sebagai contoh, dalam pembelajaran IPS SD/MI, dimensi nilai yang terkandung mengajarkan anak didik untuk mengembangkan sikap toleran, empati, bertanggungjawab dalam menggunakan hak dan kewajiban. Nursid Sumaatmadja (2005) mengemukakan bahwa nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam IPS meliputi: nilai edukatif, nilai praktis, nilai teoritis, nilai filsafat dan nilai ketuhanan. Lebih rinci, dijelaskan sebagai berikut.

  1. Nilai edukatif, melalui pendidikan IPS, perasaan, kesadaran, penghayatan, sikap, kepeduliaan, dan tanggung jawab sosial peserta didik ditingkatkan. Kepeduliaan dan tanggungjawab sosial, secara nyata dikembangkan dalam pendidikan IPS untuk mengubah perilaku peserta didik bekerja sama, gotong royong dan membantu pihak-pihak yang membutuhkan;
  2. Nilai praktis, dalam hal ini tentunya harus disesuaikan dengan tingkat umur dan kegiatan peserta didik sehari-hari. Pengetahuan IPS yang praktis tersebut bermanfaat dalam mengikuti berita, mendengakan radio, membaca majalah, menghadapi permasalahan kehidupan sehari-hari
  3. Nilai teoritis, peserta didik dibina dan dikembangkan kemampuan nalarnya kearah dorongan mengetahui kenyataan (sense of reality), dan dorongan menggali sendiri dil apangan (sense or discovery). Kemamuan menyelidiki, meneliti dengan mengajukan berbagai pernyataan (sense of inquiry).
  4. Nilai filsafat, peserta didik dikembangkan kesadaran dan penghayatan terhadap keberadaanya di tengah-tengah masyarakat, bahkan ditengah-tengah alam raya ini. Dari kesadaran keberadaan tadi, mereka disadarkan pula tentang peranannya masing-masing terhasap masyarakat, bahkan terhadap lingkungan secara keseluruhan
  5. Nilai ketuhanan, menjadi landasan kita mendekatkan diri dan meningkatkan IMTAK kepada-Nya. Kekaguman kita selaku manusia kepada segala ciptaan-Nya, baik berupa fenomena fisik-alamiah maupun fenomena kehidupan.

Akhir-akhir ini maraknya fenomena kenakalan anak dan remaja yang sering dilansir media surat kabar maupun televisi tanah air merupakan bukti telah terjadi kecenderungan pelecehan terhadap nilai-nilai kemanusian, terlebih kenyataan ini dilakukan oleh anak-anak usia sekolah bahkan diantaranya dilakukan oleh anak sekolah dasar (SD) seperti peristiwa pemerasan yang dilakukan oleh sekumpulan anak SD dimana mereka terlibat secara terorganisir layaknya orang dewasa dan menamakan dirinya dalam sebuah “geng”. Lantas, apa yang salah dengan dunia pendidikan kita?Akan seperti apa wajah pendidikan kita ke depan?Mampukan pendidikan kita menghantarkan anak didiknya menjadi insan yang diamanatkan dalam UUD 1945 dan dicita-citakan dalam UU Sisdiknas? Tentu masih banyak pertanyaan lain yang perlu diajukan sekaligus kita jawab. Potret ini tentu menjadi bagian kegelisahan dan keprihatinan kita bersama, terutama oleh para pelaku pendidikan. Selanjutnya sebagai bentuk refleksi, apa mungkin kemunduran bangsa  ini disebabkan karena adanya kesalahan dalam desain pendidikan kita. Apa mungkin dewasa ini pada praktiknya pendidikan kita termasuk pada jenjang pendidikan dasar masih berorientasi kepada ratio atau pencapaian kemampuan intelektual sementara kemampuan lain diabaikan bahkan dianggap tidak penting.

Di sadari dan diakui atau tidak, kenyataan tersebut masih terus berlangsung sampai saat ini baik yang dilakukan oleh pihak sekolah maupun orangtua/keluarga. Dalam implementasi kurikulum dan pembelajaran di SD, komponen tujuan pembelajarannya yang dituangkan dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK-KD) lebih berorientasi terhadap pencapaian aspek kognitif/intelektual sementara pencapaian pada aspek sikap atau nilai masih terbatas bahkan tidak nampak.  Bahan ajar (subject matter) dalam pembelajaran di SD masih kental dengan bobot materi pengetahuan, terlebih materi tersebut bersifat fakta yang memiliki konsekuensi menjadi tradisi hafalan. Metode/pendekatan/model pembelajaran tidak jarang masih terjebak pada aktivitas CBSA (baca: Catat Buku Sampai Habis) sehingga kecenderungan yang terjadi masih diterapkannya metode hafalan. Komponen evaluasi yang digunakan guru masih ditujukan untuk mengukur dan menilai kemampuan kognitif dan jenis dan bentuknya bersifat test, sementara pengukuran dan penilaian terhadap aspek sikap/nilai dan penggunaan alat non-test seringkali terlupakan bahkan terabaikan.

Agar tujuan esensi dan kandungan dimensi pendidikan nilai dapat diwujudkan, sudah tentu memerlukan strategi/metode/pendekatan/model pembelajaran yang tepat atau metodologi pembelajaran. Upaya ini selalu berkaitan dengan bagaimana cara yang harus dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan. Jika strategi yang berpusat pada siswa dinamakan student centered, sedangkan strategi yang berpusat pada guru dinamakan teacher centered.

Upaya yang dapat dilakukan guru untuk mengintegrasikan pendidikan nilai di sekolah dasar dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan diantaranya sebagai berikut.

a.  Pendekatan Penanaman Nilai

Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) ialah suatu pendekatan yang menitikberatkan pada penanaman nilai-nilai sosial agar selanjutnya mampu terinternalisasi dalam diri siswa. Menurut pendekatan ini sejumlah tujuan yang dapat dicapai oleh siswa diantaranya: Pertama, berupa penerimaan nilai-nilai sosial tertentu oleh siswa; Kedua, nilai-nilai yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan dan kebutuhan siswa dapat dirubah sehingga sesuai dengan nilai-nilai sosial yang diinginkan oleh siswa. Selanjutnya metoda pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru saat menerapkan ke dalam proses kegiatan pembelajaran diantara melalui penanaman keteladanan, penguatan sikap positif dan negatif, simulasi, bermain peran, tindakan sosial dan lain-lain. Misalnya disaat guru menjelaskan tentang materi kebersihan/lingkungan hidup, guru dapat meminta siswa untuk berkumpul di lapangan atau halaman sekolah, kemudian dari mulai ujung halaman sekolah secara bersamaan bersama guru memungut dan membuang sampah pada tempatnya.

b. Pendekatan Perkembangan Kognitif

Lawrence Kohlberg (Dorothy J. Skeel:1995) menyatakan bahwa anak-anak akan mencapai kemampuan untuk membuat keputusan nilai berdasarkan tingkatan dan tahapan perkembangan moral. Kohlberg menunjukan ada enam langkah tahapan perkembangan yang dilalui anak secara bertahap yaitu sebagai berikut.

Level of Moral Thought

(Tingkat Kesadaran Moral)

Stages of Moral Development

(Tahapan Perkembangan Moral)

I. Premoral (preconventional level):

Anak menyambut adanya nilai baik-buruk, hanya karena sesuatu itu akan manyakiti menyenangkan secara fisik atas kekuatan yang memberikan nilai atau aturan-aturan yang bersangkutan

1. Obiedience and punishment orientation

Anak berusaha menghindari hukuman dan menaruh respect karena melihat sifat yang memberi aturan yang bersangkutan

2. The instrumental satisfying the self needs and occasionally others:

Sesuatu itu dipandang benar kalau dapat memusakan dirinya juga karena orang lain

II. Conventional Role Conformity (Conventional level):

Individu memamndang apa yang diharapkan keluarga, kelompok atau bangsa. Setia dan mendukung aturan sosial bukan sekedar konformitas, melainkan berharga

3. Good-boy orientation:

Suatu perilaku dipandang baik kalau menyenangkan dan membantu orang lain. Seseorang akan disetujui/diterima kalau berbuat baik

4. Authority and social order maintaining orientation:

Perilaku yang benar ialah menunaikan tugas kewajiban, menghargai kewibawaan dan mempertahankan peraturan yang berlaku

III. Self-accepted Moral Principles (postconventional autonomous, or principled level):

Usaha dilakukan dengan mendefinisikan prinsip-prinsip moralitas yang tidak terikat oleh orang

5. Recognition of an arbitrary element or starting point in rules or expections for the sake of argument:

Pelaksanaan Undang-undang dan hak-hak individu diuji secara kritis. Aturan yang diterima masyarakat penting. Sementara prosedur penyusunan aturan ditekankan secara rasional

6. Orientation to conscience as a agent and to mutual respect and trust:

Kebenaran didefinisikan atas kesesuainnya dengan kata hati, prinsip-prinsip etika yang logis dan komprehensif. Pengakuan atas hak dan nilai asasi manusia dan individu

Pendekatan ini memandang bahwa siswa merupakan individu yang memiliki potensi kognitif yang sedang dan akan terus tumbuh dan berkembang. Karena itu, melalui pendekatan ini siswa didorong untuk membiasakan berpikir aktif tentang seputar masalah-masalah moral yang hadir di sekeliling mereka di mana siswa dilatih untuk belajar dalam membuat keputusan-keputusan moral. Pada gilirannya diharapkan keputusan yang diambilnya dapat melatih anak untuk bertanggungjawab terhadap keputusan yang diambilnya. Melalui pendekatan ini, tujuan yang ingin dicapai antara lain sebagai berikut. Pertama, sesuai dengan tingkat perkembangannya, siswa dibantu untuk mampu membuat pertimbangan moral mulai dari yang paling sederhana menuju tingkatan yang lebih kompleks berdasarkan kepada tata nilai yang lebih tinggi. Kedua, siswa berikutnya didorong untuk mendiskusikan rasionalisasi atau alasan-alasan terhadap nilai yang dipilih kaitannya dengan masalah masalah moral. Metode pembelajaran yang yang dapat digunakan diantaranya berdasarkan persoalan sederhana yang memiliki dilema moral dengan menggunakan metoda diskusi kelompok. Pelaksanaan kegiatan diskusi ini hendaknya diawali dengan penyajian cerita yang mengandung dilema. Dalam proses keterlibatan diskusi tersebut, siswa didorong untuk berani menentukan posisi apa yang seharusnya dipilih dan dilakukan oleh orang yang terlibat serta alasan-alasan apa saja yang mendasari pemilihan pertimabangan tersebut. Akhirnya setelah siswa mendiskusikan tentang alasan-alasan tersebut bersama kelompoknya, mereka diminta untuk menyampaikan pandangan sikapnya yang disertai dengan argumentasi di hadapan teman-teman yang lainnya.

c. Pendekatan Klarifikasi Nilai

Orientasi pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach) ialah memberi penekanan untuk membantu siswa mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, kemudian secara bertahap kemampuan kesadaran mereka ditingkatkan terhadap nilai-nilai mereka sendiri. Adapun tujuan pendidikan nilai menurut pendekatan ini ada tiga capaian. Pertama, membantu siswa untuk menggali, menemukan, menyadari serta mengidentifikasi nilai-nilai yang terdapat pada diri mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain; Kedua, mendorong siswa untuk mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain yang berkaitan dengan nilai-nilai yang mereka miliki; Ketiga, mamfasilitasi siswa agar mereka mampu secara bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berpikir rasional dengan disertai kesadaran emosional dalam memahami hal-hal yang berhubungan dengan perasaan, nilai-nilai, dan pola tingkah laku mereka sendiri. Strategi pembelajaran yang dapat dipilih diantaranya brainstorming, dialog, pengamatan lapangan, wawancara, menulis pengalaman diri, diskusi baik dalam kelompok besar atau kecil, dan lan sebagainya.

Raths dalam Kosasih Djahiri (1985) menyebutkan bahwa menurut pendekatan ini ada tiga proses klarifikasi nilai. Dalam tiga proses tersebut terdapat tujuh subproses sebagai berikut: Pertama, memilih (1) dengan bebas; (2) dari berbagai alternatif; (3) setelah mengadakan pertimbangan tentang berbagai akibatnya.  Kedua, menghargai (1) merasa bahagia atau gembira dengan pilihannya; (2)  mau mengakui pilihannya itu di depan umum.  Ketiga, bertindak (1) berbuat sesuatu sesuai dengan pilihannya; (2) diulang-ulang sebagai suatu pola tingkah laku dalam hidup.

d. Pendekatan Pembelajaran Berbuat

Karakteristik pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) berupaya menekankan pada usaha guru untuk memfasilitasi dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral yang dilakukan baik secara perseorangan maupun secara berkelompok. Penjelasan Bank (1990) tentang pentingnya pembelajaran berbuat  menyebutkan bahwa”….helping student to develop a greater sense of personal, social, and civic efficacy, and to develop greater skills in influencing their social and civic environment, should be the major goals of citizen action an participation project and activities”. Menurut pendekatan ini ada dua tujuan utama pendidikan moral yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa. Pertama, siswa terlebih dahulu diberi kesempatan untuk melakukan perbuatan moral sesuai dengan yang mereka pilih berdasarkan pertimbangan alasan moral dan nilai-nilai mereka sendiri; Kedua, guru mengajak siswa untuk memahami konsep diri (self concept), yaitu dengan membantu siswa untuk melihat diri mereka sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam interaksi sehari-hari ditengah kehidupan masyarakat. Artinya siswa sebagai sosok individu yang utuh, memiliki hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan secara bertanggungjawab, artinya kebebasan yang mereka miliki senantiasa dibatasi oleh hak orang lain. Dengan demikian, sejak awal siswa senantisa dibimbing dan dibekali dengan pembinaan pendidikan kepribadian, watak dan karakter  sehingga di masa yang akan datang mereka menjadi warga negara yang baik (well educated men and good citenship).

Menurut teori perkembangan kepribadian, setiap individu tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh beberapa faktor utama diantaranya faktor pengalaman (proses belajar), faktor kebudayaan dan faktor lingkungan keluarga yang meliputi sikap/kondisi sosial ekonomi keluarga, posisi anak dalam kelurga serta bagaimana sifat dan perlakuan orangtua. Terdapat beberapa kecenderungan arah perkembangan kepribadian yang dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas diantaranya yaitu (1) bila anak hidup di dalam suasana penuh dengan kritik, dia belajar untuk menyalahan orang; (2) bila anak hidup di dalam suasana penuh kekerasan, dia belajar untuk berkelahi; (3) bila anak hidup di dalam suasana penuh olok-olok, dia belajar untuk menjadi seorang yang pemalu; (4) bila anak hidup di dalam suasana yang memalukan, dia belajar untuk selalu merasa bersalah; (5) bila anak hidup di dalam suasana yang penuh dengan toleransi, dia belajar untuk menjadi seorang penyabar. (6) bila anak hidup di dalam suasana yang penuh dengan dukungan, dia belajar untuk menjadi seorang yang percaya diri; (7) bila anak hidup di dalam suasana penuh pujian & penghargaan, dia belajar untuk menghargai orang lain; (8) bila anak hidup di dalam suasana kejujuran, dia belajar mengenai keadilan; (9) bila anak hidup di dalam suasana yang aman, dia belajar untuk mempercayai orang lain; (10) bila anak hidup di dalam suasana yang memuaskan jiwanya, dia belajar untuk menyenangi dirinya; serta (11) bila anak hidup di dalam suasana yang penuh dengan penerimaan & persahabatan, dia belajar untuk mendapatkan kasih sayang di dalam dunia ini.

C. Penutup

Jika konsep pendidikan dasar diorientasikan pada pendidikan nilai, maka pendidikan tersebut akan harus senantiasa berbasiskan nilai, di mana nilai tersebut sengaja ditujukan untuk mengembangkan aspek kepribadian dan karakter peserta didik. Penyelenggaraan pendidikan yang berangkat dan didasarkan pada nilai diyakini akan melahirkan para lulusan yang berkepribadian, berkarakter dan berwatak baik. Karena itu, tugas utama pendidikan dasar adalah membangun karakter anak didik yaitu bertujuan agar anak didik sejak dini tidak gagal menjadi sosok manusia, karena jika manusia gagal untuk menjadi manusia maka kualitasnya tidak berbeda bahkan lebih rendah dibandingkan hewan. Dengan demikian, di sinilah letak letak nilai strategis pendidikan dasar yaitu sebagai pondasi bagi pertumbuhan dan perkembangan anak pada tahap-tahap berikutnya, di mana kita yakini bahwa tantangan ke depan akan besar dan kompleks. Jika pada tahapan ini gagal dilalui, maka surat jalan atau paspor yang sangat penting ini tidak akan dimiliki anak. Konsekuensinya, tentu anak akan kesulitan untuk memasuki kehidupan selanjutnya mulai dari konteks lingkungan terdekat keluarga, masyarakat setempat, sampai masyarakat dunia, termasuk di dalamnya lembaga satuan pendidikan.

Referensi:

Bank, A. James. (1990). Teaching Strategies for The Social Studies-Inquiry, Valuing, and Decision Making. Longman New York and London

Balitbang Puskur Depdiknas. (2007). Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum SD. Jakarta

Djahiri, A. Kosasih (1985), Strategi Pembelajaran fektif Nilai Moral dan Games Dalam VCT, Bandung, Lab Pmpkn IKIP. Bandung.

Mulyana, Rohmat. (2004). Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta.

Sauri, Sofyan. (2009). Implementasi Pendidikan Nilai dalam Pedagogik dan Penyusunan Unsur-unsurnya. Bandung: SPs PU UPI.

Skeel, J. Dorothy. (1995). Elementery Social Studies-Challenges for Tomorrow’s World. Harcourt Brace College Publishers.

Sumaatmadja, Nursid.(2005). Konsep Dasar IPS. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Sanjaya, Wina. (2007). Kurikulum dan Pembelajaran Sekolah Dasar. Bandung: SPs UPI.

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Waini Rasyidin. (2007). Landasan Filosofis Pendidikan Dasar. Bandung: SPs UPI.

Yusuf, Syamsu dan Nurihsan, Juntika. (2007). Teori Kepribadian. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Analisis Bahan Ajar IPS di Sekolah Dasar

Analisis Bahan Ajar IPS di Sekolah Dasar

Oleh: Ganes Gunansyah*)

Abstrak

Kemampuan yang melekat pada sosok guru profesional salah satunya berkaitan dengan kemampuan mengembangkan bidang ilmu yang ditekuni atau bahan ajar yang sesuai dengan konteks kurikuler dan kebutuhan peserta didik (pedagogical content knowledge). Dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 Tahun 2005 Pasal 20, diisyaratkan bahwa guru diharapkan mengembangkan materi pembelajaran, yang kemudian dipertegas melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Guru selanjutnya diharapkan mampu mengembangkan bahan ajar dan mengimplementasikan dalam pembelajaran. Namun masalah penting yang sering dihadapi guru dalam kegiatan pembelajaran adalah memilih atau menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar yang tepat dalam rangka membantu siswa mencapai kompetensinya. Berdasarkan struktur KTSP, bahan kajian IPS meliputi kemampuan memahami seperangkat fakta, konsep, dan generalisasi tentang (1) sistem sosial dan budaya, (2) manusia, tempat dan lingkungan, (3) perilaku ekonomi dan kesejahteraan, (4) waktu, keberlanjutan dan perubahan, (5) sistem berbangsa dan bernegara. Tulisan ini merupakan hasil konseptual mengenai pentingnya menganalisis bahan ajar agar guru terhindar dari kesalahan mengidentifikasi jenis-jenis materi pembelajaran serta mampu memenuhi unsur kecakupan, kecukupan dan kedalaman materi pembelajaran sehingga tingkat penguasaan kompetensi peserta didik yang termuat dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) dapat tercapai.

Kata Kunci: Bahan Ajar, Jenis Materi, Prinsip dan Prosedur Bahan Ajar

Pendahuluan

Upaya pengembangan kompetensi profesi guru dan peningkatan kualitas pembelajaran telah menjadi agenda penting pada dewasa ini. Karena itu dibutuhkan kapasitas kemampuan pengetahuan, keterampilan dan sikap/nilai yang positif dalam mengerjakan pekerjaan yang menjadi tugasnya. Dalam PP nomor 19 Tahun 2005 Pasal 20, diisyaratkan bahwa guru diharapkan mengembangkan materi pembelajaran, yang kemudian dipertegas melalui Permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan RPP. Salah satu elemen  dalam RPP adalah sumber belajar. Dengan demikian, guru diharapkan mampu mengembangkan bahan ajar sebagai salah satu sumber belajar.

Melalui Standar Kompetensi Guru Kelas (SKGK)  SD/MI lulusan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang dikeluarkan Depdiknas (2006) ditegaskan bahwa salah satu kemampuan yang melekat pada sosok guru yang profesional ialah kemampuan menguasai bidang studi, yang meliputi penguasaan substansi dan metodologi bidang ilmu (disciplinary content knowledge) yang bersangkutan serta kemampuan memilih dan mengemas bidang ilmu tersebut menjadi bahan ajar yang sesuai dengan konteks kurikuler dan kebutuhan peserta didik (pedagogical content knowledge). Penetapan standar ini sejalan dengan pengembangan konsorsium internasional bernama Interstate New Teacher Assessment and Support Consortium (INTASC) yang menyajikan 10 standar atau prinsip-prinsip performa guru diantaranya berkaitan dengan pengetahuan isi (content knowledge), metodologi dan strategi-strategi pedagogis, dan perilaku-perilaku personal yang mendorong pembelajaran siswa.

Persoalan mengembangkan isi dan bahan pelajaran serta bagaimana cara belajar siswa bukanlah proses yang sederhana. Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal  Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas (2006) dikemukakan bahwa  masalah penting yang sering dihadapi guru dalam kegiatan pembelajaran adalah memilih atau menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar yang tepat dalam rangka membantu siswa mencapai kompetensi. Kenyataan ini disebabkan karena dalam pedoman kurikulum atau silabus, materi bahan ajarnya hanya dituliskan secara garis besar dalam bentuk “materi pokok”. Selanjutnya, tugas gurulah untuk kemudian menjabarkan materi pokok tersebut sehingga menjadi bahan ajar yang lengkap. Masalah lain yang dihadapi oleh guru ialah terkait dengan bagaimana cara memanfaatkan bahan ajar. Pemanfaatan yang dimaksud ditinjau dari dua sudut pandang yaitu bagaimana cara guru mengajarkannya, dan bagaimana cara siswa mempelajarinya.

Sementara, secara umum masalah yang berkenaan dengan pemilihan bahan ajar meliputi cara penentuan jenis materi, kedalaman, ruang lingkup, urutan penyajian, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran. Masalah lain yang berkenaan dengan bahan ajar adalah memilih sumber di mana bahan ajar tersebut didapatkan. Ada kecenderungan sumber bahan ajar dititikberatkan pada buku teks. Padahal banyak sumber bahan ajar selain buku yang dapat digunakan seperti laporan hasil penelitian, jurnal, ensiklopedia, majalah, surat kabar, internet/website, lingkungan, nara sumber dari kalangan profesional/pakar bidang studi, dan lain sebagainya. Termasuk juga masalah yang sering dihadapi berkenaan dengan bahan ajar adalah guru memberikan bahan ajar atau materi pembelajaran terlalu luas atau terlalu sedikit, terlalu mendalam atau terlalu dangkal, urutan penyajian yang tidak tepat, dan jenis materi bahan ajar yang tidak sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa. Disadari atau tidak, kendala ini dialami juga oleh guru saat mengembangkan bahan ajar mata pelajaran di Sekolah Dasar termasuk pada mata pelajaran dan bahan kajian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Azmi (2004) menjelaskan bahwa pemahaman guru mengenai bidang studi IPS masih terbatas pada penguasaan fakta, konsep dan generalisasi dalam ilmu sosial sebagai bagian-bagian yang lepas dan tidak tersusun dalam struktur (structure of knowledge).

Pengertian Bahan Ajar

Meskipun secara teoritik, tahapan pengembangan bahan ajar hanyalah salah satu komponen dari keseluruhan sistem kurikulum dan pembelajaran, namun tahapan ini memiliki kedudukan strategis dan memegang peranan yang sangat penting dalam mencapai kompetensi siswa yang telah ditentukan. Artinya bahwa kesalahan dalam memilih materi pembelajaran yang tepat dengan memperhatikan aspek-aspek yang berisikan konsep dan prinsip pemilihan materi pembelajaran, penentuan cakupan, urutan, kriteria dan langkah-langkah pemilihan, perlakuan/pemanfaatan, serta sumber materi pembelajaran. akan berimplikasi terhadap kesalahan dalam menentukan materi pokok, metode/strategi pembelajaran yang digunakan, media/sumber yang diperlukan dan jenis dan bentuk penilaian yang diterapkan.

Wina Sanjaya (2007) menjelaskan bahwa bahan atau materi kurikulum (curriculum material) adalah isi atau muatan kurikulum yang harus dipahami oleh siswa dalam upaya mencapai tujuan kurikulum. Sementara menurut Depdiknas (2006) bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan.

Menurut panduan pengembangan bahan ajar Depdiknas (2007) disebutkan bahwa bahan ajar berfungsi sebagai:

  1. Pedoman bagi guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa.
  2. Pedoman bagi siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya.
  3. Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.

Dengan demikian, fungsi bahan ajar sangat akan terkait dengan kemampuan guru dalam membuat keputusan yang terkait dengan perencanaan (planning), aktivitas-aktivitas pembelajaran dan pengimplementasian (implementing), dan penilaian (assessing). Menurut David A. Jacobsen dkk dalam bukunya “Methods for Teaching” memaparkan bahwa di era standar-standar pengajaran, pendekatan yang dilaksanakan guru dalam mengembangkan aktivitas  pembelajaran apapun, yang harus mereka lakukan pertama kali adalah merencanakan, kemudian menerapkan rencana-rencana yang telah dibuat, dan akhirnya menilai keberhasilan aktivitasnya.

Alasan Mengapa Guru Perlu Mengembangkan Bahan Ajar

Ada beberapa alasan, mengapa guru perlu untuk mengembangkan bahan ajar. Beberapa alasan-alasan tersebut didasarkan antara lain; ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum, karakteristik sasaran, dan tuntutan pemecahan masalah belajar. Selain itu, pengembangan bahan ajar harus memperhatikan tuntutan kurikulum, artinya bahan belajar yang akan kita kembangkan harus sesuai dengan kurikulum. Dalam Kurikukulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Standar Kompetensi Lulusan (SKL) telah ditetapkan oleh pemerintah, namun bagaimana strategi untuk mencapainya serta apa saja bahan ajar yang hendak digunakan merupakan kewengan penuh dari para pendidik sebagai tenaga profesional. Dalam hal ini, guru dituntut sebagai pengembang kurikulum termasuk di dalamnya memiliki kemampuan dalam mengembangkan bahan ajar sendiri.

Menurut Sanjaya (2007) ada  tiga azas penting dalam pengembangan kurikulum yakni azas filosofis, psikologis, dan sosiologis teknologis. Berdasarkan azas tersebut, lebih lengkap dikemukakan bahwa isi atau materi kurikulum harus bersumber pada hal tersebut yaitu:

  1. Masyarakat beserta budayanya

Sekolah berfungsi untuk mempersiapkan anak didik agar dapat hidup di masyarakat. Dengan demikian apa yang dibutuhkan masyarakat harus menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan isi kurikulum. Kebutuhan masyarakat yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum meliputi masyarakat dalam lingkungan sekitar (lokal), masyarakat dalam tatanan nasional dan masyarakat global

  1. Siswa

Tugas dan fungsi pendidikan adalah untuk mengembangkan seluruh potensi siswa. Sehubungan dengan pentingnya anak sebagai sumber materi kurikulum, beberapa hal yang perlu dilakukan diantaranya:

  1. Kurikulum sebaiknya disesuaikan dengan perkembangan anak;
  2. Isi kurikulum sebaiknya mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat digunakan siswa dalam pengalamannya sekarang dan juga berguna untuk menghadapi pada masa yang akan datang;
  3. Siswa hendaknya didorong untuk belajar kegiatannya sendiri dan tidak sekedar penerima secara pasif apa yang diberikan oleh guru;
  4. Apa yang dipelajari siswa hendaknya sesuai dengan minat dan keinginan siswa
  5. Ilmu pengetahuan

Bahan atau materi kurikulum dapat bersumber dari disiplin ilmu baik yang berumpun ilmu-imu sosial (social science) maupun ilmu-ilmu alam (natural science). Selanjutnya yang perlu diperhatikan ialah bagaimana cakupan dan keluasan serta kedalaman materi atau isi dalam setiap bidang studi.

Sesuai standar isi, pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi yang berisikan kajian Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Sementara ruang lingkupnya meliputi aspek-aspek yang berkaitan dengan (1) Manusia, Tempat, dan Lingkungan; (2) Waktu, Keberlanjutan, dan Perubahan; (3) Sistem Sosial dan Budaya; dan (4) Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan. IPS ditingkat persekolahan dasar, secara serius telah disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dengan memperhatikan aspek metode, aspek nilai yang dikembangkan dalam ilmu-ilmu sosial serta dikemas secara psikologis, pedagogis, dan konteks sosial-budaya yang relevan untuk kebutuhan pendidikan.

Berdasarkan pemikiran yang dikemukakan di atas, kata kunci yang dapat ditemukan agar guru dapat mengatasi kesulitan tersebut ialah perlunya guru mengembangkan bahan ajar yang tepat. Apabila dalam pelaksanaan pembelajaran nantinya materi pembelajaran yang akan disampaikan bersifat abstrak, maka bahan ajar harus dikemas agar dapat membantu siswa untuk menggambarkan sesuatu yang abstrak menjadi lebih kongkrit sehingga mudah dicerna. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan penggunaan gambar, grafik, tabel, diagram, foto, audiovisual, skema, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan materi yang rumit, guru harus dapat menjelaskan dengan cara yang sederhana, mudah dipahami dan disesuaikan dengan tingkat berfikir dan nalar siswa. Inilah yang mendasari alasan mengapa guru perlu mengembangkan bahan ajar.

Tujuan dan Manfaat Penyusunan Bahan Ajar

Dukungan, layanan serta ketersedian bahan ajar yang beragam akan sangat memberikan manfaat yang sangat besar pada siswa diantaranya suasana dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik dan menantang, mendorong siswa agar memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber informasi dari guru. Terkait dengan alasan tersebut Bank (1990) menjelaskan bahwa informasi dan data yang diperoleh dari berbagai sumber beragam akan memberikan kepada siswa berbagai perspektif yang kaya akan pandangan dan mampu mendorong berkembangnya pemahaman terhadap suatu perbedaan. Dengan demikian, siswa diharapkan akan terbantu untuk memudahkan mereka dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya.

Sejumlah manfaat yang dapat diperoleh apabila seorang guru mengembangkan bahan ajar sendiri, menurut Sanjaya (2007) antara lain; pertama, diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, kedua, tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit untuk diperoleh, ketiga, bahan ajar menjadi lebih kaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi, keempat, menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan ajar, kelima, bahan ajar akan mampu membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dengan siswa karena siswa.

Bahan ajar IPS di SD mulai dari kelas satu sampai kelas enam, memuat tujuan yang dirumuskan dalam sejumlah kompetensi yang harus dikuasai. Adapun standar kompetensi lulusan IPS SD/MI meliputi:

  1. Memahami identitas diri dan keluarga, serta mewujudkan sikap saling menghormati dalam kemajemukan keluarga.
  2. Mendeskripsikan kedudukan dan peran anggota dalam keluarga dan lingkungan tetangga, serta kerja sama diantara keduanya.
  3. Memahami sejarah, kenampakan alam, dan keragaman suku bangsa di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi.
  4. Mengenai sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajemukan teknologi di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi.
  5. Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah nasional, keragaman suku bangsa serta kegiatan ekonomi di Indonesia.
  6. Menghargai peranan tokoh pejuang dalam mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
  7. Memahami perkembangan wilayah Indonesia, keadaan sosial negara di Asia Tenggara serta benua-benua.
  8. Mengenal gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga, serta dapat melakukan tindakan dalam menghadapi bencana alam.
  9. Memahami peranan Indonesia di era global.

Prinsip-Prinsip Pemilihan Bahan Ajar

Dalam mengembangkan bahan ajar tentu perlu memperhatikan prinsisp-prinsip pembelajaran. Gafur (1994) menjelaskan bahwa beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran diantaranya meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan.

Ketiga penerapan prinsip-prinsip tersebut dipaparkan sebagai berikut:

  1. Prinsip relevansi, artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian SK dan KD. Cara termudah ialah dengan mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Misalnya, apakah kompetensi dasar yang diharapkan dikuasai siswa berupa mengingat nama suatu objek, waktu dan lokasi suatu peristiwa seperti nama-nama ibu kota propinsi atau nama-nama tokoh pahlawan? Jika ”ya” maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan. Atau apakah berupa kemampuan menyatakan suatu pengertian/definisi, mengidentifikasi ciri-ciri/karakteristik sesuatu, membandingkan dan mengklasifikasi beberapa contoh objek seperti mendefinisikan apa itu gunung, apa ciri-ciri yang dimiliki gunung, apa bedanya gunung dengan pegunungan?Jika “ya” berarti materi yang harus diberikan berupa konsep. Dengan memperhatikan prinsip dasar ini, guru akan mengetahui apakah materi yang hendak diajarkan tersebut materi fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap atau aspek psikomotorik sehingga pada gilirannya guru terhindar dari kesalahan pemilihan jenis materi yang tidak relevan dengan pencapaian SK dan KD.
  2. Prinsip konsistensi, artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya, siswa diminta menyebutkan masing-masing empat contoh alat transportasi yang ada di daratan, perairan dan udara. Dengan memperhatikan prinsip ini, guru akan mengetahui seberapa banyak rincian materi yang harus diajarkan serta melakukan kriteria pengukuran dan penilaian dari kemampuan siswa.
  3. Prinsip kecukupan, artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai SK dan KD. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.

Prosedur Pemilihan Bahan Ajar

Depdiknas (2007) merinci prosedur pemilihan bahan ajar, yaitu diantaranya sebagai berikut. Pertama, menentukan kriteria pokok pemilihan bahan ajar dengan mengidentifikasi Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD). Hal ini dikarenakan setiap aspek dalam SK dan KD  jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran. Kedua, mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar. Materi pembelajaran dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip dan prosedur), aspek afektif (pemberian respon, penerimaan, internalisasi, dan penilaian) serta aspek psikomotorik (gerakan awal, semi rutin, dan rutin). Keempat, memilih bahan ajar  yang sesuai atau relevan  dengan SK-KD yang telah teridentifikasi tadi. Kelima, memilih sumber bahan ajar. Tahapan setelah menentukan jenis materi ialah menentukan sumber bahan ajar.

Dengan memperhatikan prosedur pemilihan bahan ajar ini, diharapkan pembelajaran IPS akan terhindar dan jauh dari kesan sebagai pelajaran yang membosankan dan tidak menantang. IPS bukanlah pelajaran yang hanya berisikan materi fakta atau hafalan melainkan memiliki struktur ilmu pengetahuan yang lengkap yang berisikan konsep, generalisasi dan teori. IPS juga sangat menekankan pada apek pengajaran keterampilan dan pengajaran nilai.

Keterampilan didefiniskan sebagai kemampuan menggunakan satu pemahaman untuk menyelesaikan tugas secara efektif dan selesai.  James Bank mengemukakan beberapa macam keterampilan berfikir yang harus dikuasai siswa melalui pelajaran IPS meliputi keterampilan: mendeskripsikan (describing), membuat kesimpulan (making inferences), menganalisis informasi, konseptualisasi, generalisasi, dan mengambil keputusan. Sementara Woolever dan Scott (1988) mengidentifikasi tujuh keterampilan dasar IPS yang relevan dengan tingkat sekolah dasar antara lain mencakup “dasar-dasar” keterampilan komunikasi dan keterampilan menghitung, keterampilan berpikir, peta, globe, grafik, keterampilan waktu, keterampilan berpartisipasi sosial, keterampilan inquiry, ketermpilan komputer. Sebagai contoh, bagaimana siswa SD terampil dalam mengungkapan informasi secara kongkrit berupa majalah bergambar, seperti melalui peta, globe, grafik, jam, kalender dan garis waktu membuat grafik, bagaimana menggunakan ensklopedia, bagaimana membaca kontur peta/globe/pembagian waktu, bagaimana membedakan fakta dari opini, bagaimama membuat keputusan bersama secara demokratis.

Pengajaran nilai merupakan bagian tak terpisahkan dalam kurikulum dan pembelajaran IPS. Para ahli IPS menyakini bahwa proses belajar mengajar IPS akan memiliki kekuatan (powerful) jika dilaksanakan secara bermakna, terpadu, berbasis nilai, menantang, dan aktif. Pengajaran nilai diyakini akan melahirkan para lulusan yang berkepribadian, berkarakter dan berwatak baik. Karena itu, orientasi pengajaran IPS sejalan dengan tugas utama pendidikan dasar yaitu membangun kepribadian, karakter dan watak anak didik agar menjadi sosok manusia seutuhnya.

Untuk membantu memudahkan memahami keempat jenis materi pembelajaran tersebut, berikut ini disajikan contoh diagram proses pemilihan materi pembelajaran dalam pelajaran IPS SD.

Diagram 1: Proses Pemilihan Materi Pembelajaran

Strukur Kurikulum dan Analisis Bahan Ajar IPS SD

Menurut Supriatna (2007) dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), diisyaratkan bahwa tujuan akhir dari proses pendidikan IPS pada tingkat Sekolah Dasar (SD/MI) adalah untuk mengarahkan peserta didik agar dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, bertanggung jawab serta warga dunia yang cinta damai. Sementara menurut Dorothy J. Skeel (1990) tujuan IPS (social studies) dikelompokan ke dalam tiga wilayah yaitu pengetahuan dan pemahaman, nilai dan sikap serta keterampilan. Pengetahuan dan pemahaman merupakan bagian dari domain kognitif; nilai dan sikap merupakan bagian kognitif dan domain afektif (misalnya menghargai, empati) dan keterampilan merupakan bagian dari kemampuan atau kecakapan.

IPS sebagai sebuah program pendidikan disusun dan dikembangkan secara komprehensif dengan memuat empat dimensi pembelajaran yaitu sebagai berikut: (1) Dimensi pengetahuan (Knowledge); (2) Dimensi keterampilan (Skills); (3) Dimensi nilai dan sikap (Values and Attitudes); dan (4) Dimensi tindakan (Action). Dimensi pengetahuan (Knowledge) mencakup: (1) Fakta; (2) Konsep; dan (3) Generalisasi. Fakta ialah sesuatu pernyataan yang benar dan merupakan data yang spesifik dalam menjelaskan sebuah peristiwa, objek, orang, dan kejadian. Fakta merupakan tingkatan terendah dalam struktur ilmu pengetahuan yang dicirikan dengan menyebutkan kapan, berapa, nama, dan di mana. Misalnya Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945; seminggu ada 7 hari; Surabaya sebagai Ibu Kota Jawa Timur. Konsep adalah berupa label/penamaan yang digunakan untuk menggambarkan kelompok atau kumpulan, baik berupa orang, benda, kejadian, atau ide. Anggota yang masuk dalam kelompok dapat disimpan bersama-sama (atau diklasifikasikan) di bawah satu label atau penamaan, karena semuanya memiliki kesamaan dalam beberapa hal. Dimensi keterampilan (Skills) mencakup keterampilan berpikir dan bernalar (thinking and reasoning), kerjasama dan partisipasi sosial, berkomunikasi, akademik/studi, mengambil keputusan. Dimensi Nilai dan Sikap (Values and Attitudes) meliputi nilai edukatif (kepedulian, tanggungjawab, dispilin), nilai teoritis (rasa ingin tahu, terbuka dalam pemikiran, tekun, memperoleh sumber fakta yang dapat dipercaya, tidak mudah percaya tanpa disertai bukti yang lengkap), nilai filsafat (kesadaran diri sebagai makhluk yang hidup ditengah-tengah masyarakat dan lingkungan) dan nilai ketuhanan (iman dan takwa terhadap Tuhan YME).

Berdasarkan struktur KTSP, bahan kajian IPS meliputi kemampuan memahami fakta, konsep, dan generalisasi tentang (1) sistem sosial dan budaya, (2) manusia, tempat dan lingkungan, (3) perilaku ekonomi dan kesejahteraan, (4) waktu, keberlanjutan dan perubahan, (5) sistem berbangsa dan bernegara. Sebagai contoh, pada kelas lima SD semester pertama memuat Standar Kompetensi berupa kemampuan menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala nasional pada masa Hindu-Budha dan Islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa serta kegiatan ekonomi di Indonesia.

Selanjutnya kegiatan analisis bahan ajar diuraikan sebagai berikut.

Standar Kompetensi:

Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala nasional pada masa Hindu-Budha dan Islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa serta kegiatan ekonomi di Indonesia.

Kompetensi Dasar:

Mengenal makna peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu, Budha, dan Islam

Berdasarkan KD di atas, muatan jenis materinya berupa pengetahuan yang bersifat fakta dan konsep. Secara teoritik, materi yang bersifat fakta terdiri dari nama, tempat, waktu, jumlah. Sementara materi yang bersifat konsep berupa definisi/pengertian, karakteristik/ciri-ciri, identifikasi dan klasifikasi. Dengan demikian, jenis materi pengetahuan hanya besifat fakta dan konsep sementara materi yang bersifat prinsip dan prosedur tidak termuat dalam KD tersebut. Untuk jenis materi afektif/sikap/nilai, jelas termuat dalam SK yang menyebutkan kemampuan “menghargai”. Adapun tingkatan-tingkatan dalam ranah afektif terdiri dari kemampuan menerima (receiving), merespons (responding), menghargai (appreciate),  dan mengatur (organization).

Setelah aspek-aspek dan jenis materi diidentifikasi, tahapan berikutnya ialah pemilihan materi yang sesuai dengan jenis materi dalam SK dan KD. Bila dikaitkan antara jenis materi pada KD pertama dengan penentuan materi yang harus termuat dalam bahan ajar (silabus dan RPP), maka hanya memuat materi yang bersifat fakta dan konsep. Cakupan materi yang dimaksud ialah nama-nama kerajaan Hindu, Budha dan Islam, contoh jenis-jenis peninggalan kerjaan Hindu, Budha dan Islam, contoh peristiwa penting pada jaman Hindu, Budha dan Islam, jumlah kerajaan yang dapat diidentifikasi dari ketiga masa kerajaan terserbut, serta waktu/periode berlangsungsnya masing-masing kerajaan Hindu, Budha dan Islam.

Berdasarkan analisis tersebut, muatan materi di atas harus tertuang dalam bahan ajar guru dan secara konsisten diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran.  Cakupan muatan materi jangan sampai hanya memuat beberapa aspek misalnya nama-nama kerajaan, jenis-jenis peninggalan tanpa disertai dengan jumlah kerajaan yang bercirikan Hindu, Budha, Islam serta kapan periodesasi/waktu berlangsungnya masing-masing kerajaan. Begitu pula cakupan materi pokok bersifat konsep tidak hanya memuat pengertian dan ciri-ciri peninggalan kerajaan Hindu, Budha, dan Islam melainkan pula memuat kemampuan mengidentifikasi, membedakan dan membandingkan antara masing-masing kerajaan Hindu, Budha dan Islam.

Dalam tahapan penentuan cakupan, kedalaman serta urutan penyampaian harus dihindarkan penentuan materi pokok yang tidak sesuai (relevan), tidak konsisten dan  tidak memenuhi unsur kecukupan dengan pencapaian SK dan KD. Secara teoritik, bahwa ketepatan menentukan kecukupan, kedalaman dan urutan penyampaian materi akan menghindarkan guru dalam memberikan materi yang terlalu sedikit atau terlalu banyak, terlalu dangkal atau terlalu dalam. Guru harus teliti, jika diketahui bahwa dalam SK memuat jenis materi afektif yang ditandai dengan kata kunci “menghargai” maka penentuan materi pokok dan indikator pembelajaran harus ditemukan materi yang mendukung terhadap pengembangan jenis materi afektif tersebut. Dengan demikian, guru dapat terhindar dari penentuan cakupan/ruang lingkup materi yang “tidak konsisten”, materi yang “kurang/dangkal” dan tidak sesuai dengan aspek-aspek yang termuat dalam standar isi.

Strategi Penyampaian Bahan Ajar

Mengajar esensinya ialah untuk membantu siswa untuk mencapai kompetensi dan bukanlah dimaksudkan untuk menyelesaikan satu buku. Terlebih lagi, anak sejak usia dini memiliki rasa ingin tahu (sense of curiosity) yang besar. Sayangnya orang dewasa sering mematahkan tersebut dengan mengatakan “jangan banyak tanya” atau “kamu masih kecil”. Jelas tindakan ini akan sangat berdampak buruk dan mematikan potensi dasar yang dimiliki anak. Pendekatan inkuiri dan proses berpikir induktif dapat menjadi alternatif untuk mengembangkan potensi tersebut.

Karena itu, guru dituntut mampu menerapkan langkah-langkah bagaimana memanfaatkan bahan ajar yang telah dipilih dan disusun ke dalam aktivitas pembelajaran. Dalam kegiatan tersebut, ada dua tinjauan yaitu bagaimana strategi penyampaian bahan ajar oleh guru dan bagaimana mempelajari bahan ajar oleh siswa. Terkait dengan hal tersebut, pemanfaatan bahan ajar baik dari tinjauan guru maupun dari siswa dikembangkan melalui langkah-langkah sebagai berikut.

1)      Strategi penyampaian fakta

Ketika guru harus menyajikan materi pembelajaran yang termasuk jenis fakta (nama-nama benda, nama tempat/lokasi, peristiwa sejarah, nama orang, berapa jumlah, dsb.) strategi yang tepat untuk mengajarkan materi tersebut adalah dengan cara menyajikan materi fakta dengan lisan, tulisan, gambar, foto, CD Pembelajaran, pemanfaatan lingkungan sekitar, dan memberikan bantuan kepada siswa untuk menghafal. Cara termudah dapat dilakukan dengan menggunakan “jembatan keledai, jembatan ingatan, asosiasi berpasangan, dan sistem koding”.

2)      Strategi penyampaian konsep

Tujuan mempelajari konsep adalah agar siswa paham yang mampu mendefinisikan, menunjukkan ciri-ciri, unsur, membedakan, membandingkan, mengelompokan. Bila menggunakan strategi pengajaran langsung, langkah-langkah yang dapat ditempuh guru dalam mengajarkan konsep: pertama, sajikan konsep dengan terlebih dahulu menuliskan abstraksi di papan tulis, layar OHP atau media presentasi lainnya; kedua, berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok, contoh dan bukan contoh); ketiga, berikan latihan (exercise) misalnya berupa tugas untuk mencari contoh lain; keempat, berikan umpan balik, dan kelima, berikan tes.

Contoh:

Penyajian konsep pedagang eceran

Langkah 1:  Penyajian konsep

Pedagang eceran (retailer): suatu perusahaan yang membeli barang-barang dari produsen atau dari grosir kemudian menjualnya kepada konsumen. Misalnya: toserba, supermarket, toko khusus.

Langkah 2: Pemberian bantuan

(a) Murid dibantu untuk menghafal konsep dengan kalimat sendiri.

(b)  Tunjukkan unsur-unsur pokok konsep pedagang eceran, yaitu:

(1) Membeli barang (sebagai pihak pembeli dari produsen atau grosir)

(2) Menjual kembali kepada konsumen

(3) Sebagai pihak penjual setelah produsen dan grosir

Langkah 3: Latihan

Terlebih dahulu siswa diminta menghafal konsep yang telah diberikan dengan kalimat sendiri (hafal parafrase) Kemudian siswa diminta memberikan contoh pedagang eceran  lainnya sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki siswa selain yang dicontohkan oleh guru untuk mengetahui pemahaman murid terhadap materi pedagang eceran (konsep dasar ekonomi).

Langkah 4: Umpan balik

Berikan umpan balik atau informasi apakah contoh yang diberikan siswa benar atau salah. Jika benar berikan konfirmasi, jika salah berikan koreksi atau pembetulan.

Langkah 5: Tes

Berikan tes untuk menilai apakah siswa benar-benar telah paham terhadap materi pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan ekonomi. Soal tes yang diberikan harus berbeda dengan contoh kasus yang disajikan pada saat penyampaian konsep dan soal-soal latihan untuk menghindari siswa hanya hafal tetapi tidak paham.

5)    Strategi penyampaian materi pembelajaran prinsip

Termasuk materi pembelajaran jenis prinsip adalah dalil, rumus, hukum (law), postulat, teorema, dsb. Adapun langkah-langkah mengajarkan atau menyampaikan materi pembelajaran jenis prinsip adalah:

(a)       Sajikan prinsip

(b)       Berikan bantuan berupa contoh penerapan  prinsip

(c)       Berikan soal-soal latihan

(d)      Berikan umpan balik

(e)       Berikan tes.

6)    Strategi penyampaian prosedur

Tujuan mempelajari prosedur adalah agar siswa dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan sekedar paham atau hafal. materi pembelajaran yang termasuk jenis prosedur adalah langkah-langkah mengerjakan suatu tugas secara urut. Misalnya langkah-langkah memperbesar dan memperkecil skala peta. Adapun langkah-langkah mengajarkan prosedur meliputi:

(a)  Menyajikan prosedur

(b) Pemberian bantuan dengan jalan mendemonstrasikan

(c) Memberikan latihan (praktek)

(d) Memberikan umpan balik

(e) Memberikan tes.

7)    Strategi mengajarkan/menyampaikan materi aspek afektif

Termasuk materi pembelajaran aspek sikap (afektif) antara lain berupa pemberian respons, penerimaan suatu nilai, internalisasi, dan penilaian. Menurut David A. Jacobsen dkk (2009) tingkatan-tingkatan dalam ranah afektif terdiri dari kemampuan menerima (receiving), merespons (responding), menghargai (appreciate),  dan mengatur (organization). Menerima, merupakan tingkatan terendah dalam ranah afektif yang pertama kali ditunjukan dengan tingkat pemikiran terbuka (open-mindedness) terhadap gagasan baru. Tanpa adanya sifat ini, siswa akan sulit memiliki sikap reseptif (mudah menerima) terhadap informasi baru yang disajikan. Indikator lain untuk melihat perilaku dalam tingkatan ini  ditunjukan dengan kemampuan siswa mendengar pendapat orang lain dan bersikap mau dan mudah menerima terhadap informasi baru yang dihadirkan padanya. Merespon, merupakan tingkatan kedua setelah menerima yaitu ditunjukan dengan adanya minat siswa, keterlibatan dan komitmen untuk terlibat dalam aktivitas pembelajaran. Beberapa contoh perilaku dalam tingkatan ini ditandai adanya kemauan dari siswa untuk berdialog dan berpartisipasi terhadap tema yang dipelajari. Menghargai, merupakan tingkatan yang menunjukan kemampuan siswa dalam merasakan sikap, nilai, atau kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap berharga dan penting untuk dimiliki serta terlihat dari kebiasaan perilaku sehari-hari. Mengatur,  merupakan tingkatan yang menunjukan dalam mengatur komitmen yang menyeluruh dan terpadu ke dalam pandangan yang lebih luas dan komprehensif mengenai manusia dan bagaimana seharusnya memperlakukan orang lain. Adapun beberapa pendekatan dalam mengajarkan materi sikap dan nilai melalui penanaman nilai, klarifikasi nilai (value clarification), pendidikan kognitif moral (cognitive moral education), analisis nilai. Sementara strategi mengajarkan materi aspek sikap antara lain melalui penciptaan kondisi, pemodelan atau contoh, demonstrasi, simulasi, bermain peran, dilema moral.

Penutup

Profesi guru membutuhkan kapasitas kemampuan pengetahuan dan pemahaman, keterampilan disertai nilai/sikap yang positif dalam mengerjakan pekerjaan yang menjadi tugasnya.  Pekerjaan mendidik yang dilakukan seorang guru tidaklah hanya sekedar praktek melainkan suatu praktek yang berlandasankan dan bertujuan. Implikasi perlunya guru memiliki keterampilan dalam menganalisis bahan ajar ialah agar guru tidak keliru dalam mengidentifikasi dan mengembangkan jenis-jenis materi pembelajaran serta memiliki kecakupan, kecukupan dan kedalaman materi pembelajaran. Jika hal ini tidak dikuasai akan berdampak terhadap rendahnya tingkat penguasaan dan pencapaian kompetensi peserta didik yang termuat dalam SK dan KD serta tidak relevannya pemilihan komponen-kompenen lainnya dalam implementasi kurikulum dan pembelajaran khususnya pada mata pelajaran dan bahan kajian IPS yang meliputi komponen isi/materi pokok, metode pembelajaran, sumber dan media belajar, serta alat penilaian yang digunakan.

Bahan Bacaan

Azmi. (2004). Reposisi Pelajaran Ilmu Sosial di Pendidikan Dasar dan Menengah. Bandung: Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial.

Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar Menengah.  Jakarta: BSNP

Balitbang Puskur Depdiknas. (2007). Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Balitbang Puskur Depdiknas. (2007). Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum SD. Jakarta

Bank, A. James. (1990). Teaching Strategies for The Social Studies-Inquiry, Valuing, and Decision Making. Longman New York and London

Depdiknas. (2006). Pedoman Memilih dan Menyusun Bahan Ajar. Jakarta:  Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dirjen Dikti Depdiknas. (2006). Standar Kompetensi Guru Kelas SD/MI Lulusan S1 PGSD. Jakarta: Dit. Ketenagaan. Ditjen Dikti.

Gafur, Abdul. (1986). Disain Instruksional: Langkah Sistematis Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Belajar Mengajar. Sala: Tiga Serangkai.

Jacobsen, D., Eggen, P., Kauchak, D. (2009). Methods for Teaching: Metode-Metode Pengajaran Meningkatkan Belajar Siswa TK-SMA. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Sanjaya, W. (2007). Kajian Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Materi Pokok SPs UPI.

Supriatna,N., Mulyani,S., Rokhayati,A. (2007). Pendidikan IPS di SD. Bahan Belajar Mandiri Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung: UPI Press.

Skeel, J. Dorothy. (1995). Elementery Social Studies-Challenges for Tomorrow’s World. Harcourt Brace College Publishers.

Tim Pengembang Depdiknas. (2003) Pedoman Umum Pengembangan Silabus. Depdiknas. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Dit. Pendidikan Menengah dan Umum: Jakarta.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas

___________Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta: Depdiknas

___________Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan  (SKL). Jakarta: Depdiknas

___________Nomor 41 Tahun 2006 tentang Standar Proses. Jakarta: Depdiknas

Woolever, M. Roberta and Scott, P. Kathryn. (1988). Active Learning in Social studies-Promoting Cognitive and Social Growth. Scott, Foresman and Company Boston London.

Kelas A S-1 PGSD

pemaparan mekanisme dan silabus perkuliahan

-IPS kelas awal

-IPS kelas lanjut

-Konsep Dasar IPS

Orientasi Penyelenggaraan Pendidikan Dasar Berbasis Pendidikan Karakter

Orientasi Penyelenggaraan Pendidikan Dasar Berbasis Pendidikan Karakter

Oleh: Ganes Gunansyah, M.Pd

A. Pendahuluan

Indonesia dewasa ini sedang dihadapkan pada persoalan dekadensi moral yang sangat serius. Pergeseran orientasi kepribadian yang mengarah pada berbagai perilaku amoral sudah demikian jelas dan nampak terjadi ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Rasa malu, berdosa dan bersalah dari perbuatan buruk serta pelanggaran terhadap norma-norma baik norma agama, norma hukum, norma susila tidak lagi menjadi tuntunan dalam menciptakan kehidupan yang bertanggungjawab dalam memelihara nilai-nilai kemanusiaan. Tantangan tersebut merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan terutama bagi dunia pendidikan agar ujian berat ke depan dapat dilalui dan dipersiapkan oleh seluruh generasi bangsa Indonesia. Kata kunci dalam memecahkan persoalan tersebut terletak pada upaya penanaman dan pembinaan kepribadian dan karakter sejak dini termasuk pada jenjang pendidikan dasar (SD/MI).

Pendidikan dasar sebagai salah satu jenjang pendidikan dalam sistem pendidikan nasional diibaratkan sebagai tiket masuk atau “paspor” untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Gagalnya pendidikan pada tahap ini terutama dalam pembinaan sikap/nilai diyakini akan berdampak sistemik terhadap pendidikan berikutnya. Orientasi penyelenggaraan pendidikan dasar sangat menekankan pada pembinaan  kepribadian, watak dan karakter anak. Karena itu, integrasi pendidikan yang sarat dengan nilai dan pembentukan karakter diperlukan untuk membekali peserta didik dalam mengantisipasi tantangan ke depan yang dipastikan akan semakin berat dan kompleks. Guru sebagai pengembang kurikulum selanjutnya dituntut untuk mampu secara terampil menghadirkan suasana dan aktivitas pembelajaran yang berorietansi pada penanaman dan pembinaan kepribadian, watak dan karakter.

Upaya pengembangan kualitas peserta didik dalam kepribadian dan karakter merupakan hal penting yang harus dipikirkan secara sungguh-sungguh. Kepribadian dan karakter bangsa yang mantap dan kokoh merupakan aspek penting dari kualitas SDM yang ikut menentukan kemajuan suatu bangsa ke depan. Anak usia sekolah dasar merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Menurut Freud kegagalan dalam memberikan penanaman dan pembinaan kepribadian yang baik di usia tersebut ini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Dengan demikian keberhasilan membimbing anak didik dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini dan sekolah dasar sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak. Inilah yang selanjutnya menjadi tugas penting dan strategis dari kerjasama antara pihak orangtua, pihak sekolah dan masyarakat sebagai tripusat pendidikan.

B. Pembahasan

1. Landasan Filosofis Pendidikan Dasar

Pendidikan sendiri  bukanlah sekedar soal praktek melainkan praktek yang berlandaskan dan bertujuan. Landasan dan tujuan pendidikan itu sendiri bersifat filosofis, teoritis, dan praksis. Bersifat filosofis karena untuk mendapatkan landasan yang kokoh diperlukan adanya kajian yang bersifat mendasar, sistematis, dan menyeluruh tentang ciri hakikat manusia dan pendidikan. Sementara bersifat teroritis dan praksis ialah dapat dimanipestasikan secara kongkrit dalam kurikulum dan pembelajaran. Demikian pula dengan penyelenggaraan pendidikan dasar, sudah barang tentu dalam prakteknya memerlukan landasan yang kokoh dan dapat dijadikan pegangan bagi para pelaku pendidikan. Pendidikan dasar untuk anak menurut UNESCO dikonsepsikan sebagai pendidikan awal untuk setiap anak (formal atau nonformal) yang pada prinsipnya berlangsung dari dari usia sekitar 3 (tiga) tahun sampai dengan sekurang-kurangnya berusia 12 sampai 15 tahun. Jadi usia anak pada satuan pendidikan sekolah dasar termasuk didalamnya. Pendidikan dasar hakekatnya merupakan pendidikan umum yang hendak memberikan sebuah tiket masuk atau surat jalan yang sangat penting bagi setiap orang, tanpa kecuali untuk dipergunakan dalam rangka memasuki kehidupan mulai dari lingkungan keluarga, tetangga, sekolah, masyarakat setempat hingga masyarakat dunia.

Merujuk pada pasal 1 ayat 1 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) menyatakan bahwa “pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Selain itu, Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dengan tegas menyebutkan bahwa:

“pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam UUSPN di atas jelas menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan termasuk pendidikan dasar (SD/MI) sangat menitikberatkan pada pembinaan karakter yang berbasiskan pada etika, nilai dan moral. Sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, pendidikan dasar merupakan salah satu jenjang yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dasar yang dimiliki anak sehingga memiliki sejumlah dasar-dasar pengetahuan, keterampilan dan sikap/nilai. Kemampuan ini selanjutnya diperlukan untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan keseharian sekaligus mampu melatih dan membiasakan mereka dalam mengambil keputusan sesuai dengan tingkat dan tahap perkembangannya. Kata dasar memiliki pengertian sebagai peletak kemampuan awal baik aspek intelektual, sosio-emosional, bahasa, fisik-motorik dan yang terpenting aspek kepribadian anak melalui pengembangan karakter serta penanaman aspek nilai dan moral seperti kedispilinan, kejujuran dan lain sebagainya.

Thomas Lickona pernah mengungkapkan bahwa akan terdapat sepuluh tanda-tanda jaman di masa yang akan datang yang harus diwaspadai. Jika tanda-tanda ini terdapat dalam sebuah bangsa berarti ia sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda tersebut diantaranya meliputi: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, (3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan, (4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas. (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, (6) menurunnya etos kerja, (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, (9) membudayanya ketidakjujuran, dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Diakui dan disadari atau tidak, hal-hal yang dikemukakan di atas dewasa ini sudah ada dan dari hari ke hari semakin nampak jelas terlihat di Indonesia. Maraknya kekerasan yang melibatkan anak-anak usia sekolah, seperti gank motor dan gank anak-anak perempuan yang terjadi di beberapa tempat di tanah air ini merupakan kasus-kasus yang menunjukan kesepuluh tanda-tanda jaman yang dimaksud di atas. Selain fenomena/gejala tersebut, masalah lain yang tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah sistem pendidikan prasekolah dan pendidikan dasar yang ada dewasa ini menunjukan kecenderungan untuk gandrung dan lebih berorientasi pada pengembangan otak kiri (kognitif) sementara pengembangan otak kanan (afektif, empati, dan rasa) seringkali kurang diperhatikan bahkan malah terabaikan. Jika berbicara mengenai upaya penanaman dan pembinaan kepribadian dan karakter, maka pengembangan dan optimalisasi fungsi otak kanan menjadi penting. Jenjang pendidikan dasar sebagai tiket masuk untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih atas, justru harus memberikan orientasi yang lebih pada usaha membekali anak didik dengan pendidikan dan pembelajaran yang berorientasi pada penanaman dan pembinaan kepribadian dan karakter. Adapun pengembangan aspek kognitif/intelektual hanya sebagai peletak dasar.

2. Pendidikan Karakter sebagai Kebutuhan bagi Siswa Sekolah Dasar

Dimuatnya kata-kata beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab yang terdapat dalam ketentuan umum UUSPN No. 20 Tahun 2003 point 2 menunjukan bahwa implementasi pendidikan hendaknya berbasiskan kepada seperangkat nilai sebagai panduan antara keseimbangan ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Tujuan pendidikan nasional yang memberikan perhatian dan penekanan aspek pembinaan keimanan dan ketakwaan mengisyaratkan bahwa nilai dasar pembangunan karakter bangsa bersumber dan harus bermuara pada penguatan nilai-nilai ketuhanan sesuai dengan keyakinan agama yang diyakininya.

Menurut ASCD for the Language Learning: A Guide to Education Terms, by J.L McBrien & R.S. Brand, Alexandria, VA: Association for Supervision and Curriculum Development (Endang Sumantri:2010) bahwa pengertian karakter telah dicoba dijelaskan dalam berbagai pengertian dan penggunaan, diantara dalam konteks pendidikan, karakter seringkali mengacu pada bagaimana ‘kebaikan’ seseorang. Dengan kata lain, seseorang yang dianggap memiliki karakter yang baik akan mampu menunjukan sebagai kualitas pribadi yang patut serta pantas sesuai dengan yang diinginkan dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, pendidikan karakter senantiasa akan berkaitan dengan bagaimana memberikan mengajarkan anak-anak tentang nilai dasar manusia yang diantara memuat tentang kejujuran, kebaikan, kedermawanan, keberanian, kebebasan, persamaan, dan kehormatan.

Sumantri (2010) menambahkan bahwa dalam pendidikan karakter, terdapat enam nilai etik utama (core ethical values) seperti yang tertuang dalam deklarasi Aspen yaitu meliputi (1) dapat dipercaya (trustworthy) seperti sifat jujur (honesty) dan integritas (integrity), (2) memperlakukan orang lain dengan hormat (treats people with respect), (3) bertanggungjawab (responsible), (4) adil (fair), (5) kasih sayang (caring) dan warganegara yang baik (good citizen).

Lebih lanjut, Sumantri (2010) menjelaskan beberapa esensi nilai karakter yang dapat dieksplorasi, diklarifikasi dan direalisasikan melalui pembelajaran baik dalam intra dan ekstrakurikuler antara lain sebagai berikut.

IDEOLOGI

(IDEOLOGY)

AGAMA

(RELIGION)

BUDAYA

(CULTURE)

  • Dispilin, hukum dan tata tertib
  • Mencintai tanah air
  • Demokrasi
  • Mendahulukan kepentingan umum
  • Berani
  • Setiakawan/solidaritas
  • Rasa kebangsaan
  • Patriotik
  • Warga negara produktif
  • Martabat/harga diri bangsa
  • Setia/bela negara
  • Iman pada Tuhan YME
  • Taat pada perintah Tuhan YME
  • Cinta agama
  • Patuh pada ajaran agama
  • Berahlak
  • Berbuat Kebajikan
  • Suka menolong dan bermanfaat bagi orang lain
  • Berdoa dan bertawakal
  • Peduli terhadap sesama
  • Berperikemanusiaan
  • Adil
  • Bermoral dan bijaksana
  • Toleransi dan Itikad baik
  • Baik hati
  • Empati
  • Tata  cara dan etiket
  • Sopan santun
  • Bahagia/gembira
  • Sehat
  • Dermawan
  • Persahabatan
  • Pengakuan
  • Menghormati
  • Berterima kasih

Namun, pola pengajaran pendidikan karakter harus dipastikan tidak terjebak pada tradisi hafalan, atau siswa hanya sekedar tahu. Seringkali persoalan yang terjadi, orang tahu belum tentu paham, orang paham belum tentu melakukan/berbuat, dan orang yang berbuat sekalipun belum tentu mampu menghayati dan mengambil makna dari perbuatan yang telah dilakukannya. Karena pola pembinaan kepribadian dan karakter seyogyanya harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan dengan melibatkan aspek pengetahuan (knowledge), perasaan (feeling), tindakan (acting). Diharapkan pada gilirannya, siswa secara seimbang mampu mengembangkan kepribadian dan karakternya menjadi sosok yang tangguh, mandiri, memahami hak dan kewajiban, bertanggungjawab, dispilin dan kuat dalam menghadapi tantangan jaman ke depan.

Dalam pendidikan karakter, Thomas Lickona (1992) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. Komponen-komponen tersebut diuraikan sebagai berikut. Pertama, Pengetahuan Moral. Ada enam aspek yang menjadi orientasi dari moral knowing yaitu : 1) kesadaran terhadap moral (moral awareness), 2) pengetahuan terhadap nilai moral (knowing moral values), 3) mengambil sikap pandangan (perspective taking), 4) memberikan penalaran moral (moral reasoning), 5) membuat keputusan (decision making), dan 6) menjadikan pengetahuan sebagai miliknya (self knowledge). Kedua, Perasaan tentang Moral. Ada enam aspek yang menjadi orientasi dari moral feeling yaitu: 1) kata hati/suara hati (conscience, 2) harga diri (self esteem), 3) empati (emphaty), 4) mencintai kebajikan (loving the good), 5) pengedalian diri (self control), dan 6) kerendahan hati (humility). Ketiga, Perbuatan/Tindakan Moral. Ada tiga aspek yang menjadi indikator dari moral action, yaitu: 1)  kompetensi (competence), 2) keinginan (will), 3) kebiasaan (habit).

Menurut Foerster (Elmubarok:2009) menjelaskan ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter, yaitu sebagai berikut. Pertama, keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasarkan hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut resiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain karena tidak adanya koherensi akan meruntuhkan kredibilitas seseorang. Ketiga, otonomi yaitu dimana seseorang menginternalisasikan aturan dari sampai luar menjadi nilai-nilai bagi pribadi melalui penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan serta tekanan orang lain. Keempat, keteguhan dan kesetiaan, yaitu berupa daya tahan seseorang guna menginginkan apa yang dipandang baik.

Sementara Dorothy Rich (Elmubarok:2009) mengungkapkan beberapa nilai dan kebiasaan dalam pendidikan karakter yang dapat dipelajari dan diajarkan oleh orangtua maupun sekolah, yang selanjutnya dinamakan “mega skills” yaitu meliputi: percaya diri (confidence), motivasi (motivation), usaha (effort), tanggungjawab (responsibility), inisiatif (initiative), kemauan kuat (perseverence), kasih sayang (caring), kerjasama (teamwork), berpikir logis (common sense), pemecahan masalah (problem solving), konsentrasi pada tujuan (focus).

Berdasarkan konsep-konsep yang dikemukakan di atas, paling tidak tujuan pendidikan karakter khususnya pada jenjang pendidikan dasar ialah berupaya untuk meningkatkan anak-anak menjadi pribadi yang disiplin, memiliki inisiatif, tanggungjawab, suka menolong dan tumbuh kasih sayang, menghormati sesama dan orang yang lebih dewasa, pandai berterima kasih. Selanjutnya kemampuan-kemampuan tersebut dapat dilatih dan dikembangkan dengan menerapkan strategi pembelajaran seperti bermain peran, simulasi, penanaman keteladanan, penguatan sikap positif dan negatif, simulasi, bermain peran, tindakan sosial, tanya jawab sehingga pada gilirannya diharapkan siswa akan mampu melihat bahwa keputusannya akan mempengaruhi orang lain dan aspek-aspek lainnya.

Berdasarkan tahap perkembangan, pada prinsipnya anak yang memiliki kualitas karakter yang rendah mereka umumnya termasuk anak-anak yang memiliki kecenderungan tingkat perkembangan sosio-emosionalnya yang rendah, sehingga kemungkinan terbesar anak-anak yang termasuk kategori ini beresiko mengalami kesulitan dalam interaksi sosial, ketidakmampuan mengontrol diri sehingga pada gilirnnya akan menyebabkan mereka mengalami kesulitan belajar. Berdasarkan pikiran-pikiran yang telah dikemukakan di atas, semakin menunjukan bahwa penanaman dan pembinaan kepribadian dan karakter di usia sekolah dasar memiliki kedudukan dan peranan yang strategis dan berkontribusi besar terhadap keberhasilan dalam kehidupan selanjutnya.

Dalam proses pembelajaran berdasarkan UUSPN Nomor 20 tahun 2003, paling tidak terdapat empat empat faktor yang mendukung mengapa pendidikan karakter dibutuhkan. Pertama, melalui pemberian wewenang penuh terhadap satuan pendidikan (sekolah) yang didalamnya terdapat unsur guru sebagai pelaku utama pendidikan, diharapkan guru dapat lebih mengembangkan dan memberdayakan diri untuk mengembangkan potensi dan dimensi peserta didik agar mampu hidup bermasyarakat. Kedua, tujuan pendidikan nasional sangat memberi perhatian dan menitikberatkan pada penanaman dan pembinaan aspek keimanan dan ketaqwaan. Hal ini sebagai isyarat bahwa “core value” pengembangan pendidikan karakter bangsa bersumber dari kesadaran beragama (religius), artinya input, proses dan output pendidikan harus berasal dan bermuara pada penguatan nilai-nilai ketuhanan yang dilandasi keyakinan da kesadaran penuh sesuai agama yang diyakininya masing-masing. Ketiga, strategi pengembangan kurikulum pendidikan dasar adalah penekanan pada 4 (empat) pilar pendidikan yang ditetapkan UNESCO, yaitu belajar mengetahui (learning to know), menjadi dirinya sendiri (learning to be), belajar bekerja (learning to do) dan belajar hidup bersama (learning to live together). Pengembangan kurikulum (program belajar) pendidikan dasar harus memfasilitasi peserta didik untuk belajar lebih bebas dan mempunyai pandangan sendiri yang disertai dengan rasa tanggung jawab pribadi yang lebih kuat untuk mencapai tujuan hidup pribadinya atau tujuan bersama sebagai anggota masyarakat. Hal ini yang selanjutnya menjadi hakekat dari pendidikan karakter.

Keempat, misi pendidikan dasar ialah berupaya menggali dan mengembangkan seluruh potensi dan dimensi baik personal, agama, susila dan sosial yang dimiliki siswa. Melalui usaha ini memungkinkan setiap siswa, tanpa kecuali, dapat mendorong tumbuh nilai-nilai kejujuran, keadilan, kasih sayang, toleransi, keindahan, dan tanggung jawab dalam pemahaman nilai sesuai tingkat perkembangan dan  kemampuan mereka.

C. Penutup

Persoalan dekadensi dan degradasi moral, akhlak tentunya membutuhkan perhatian yang serius dan upaya penanganan yang cepat dan tepat. Bebagai pihak terutama orang tua, guru maupun lembaga pendidikan memiliki tanggungjawab untuk memberikan penanaman dan pembinaan terhadap aspek kepribadian dan karakter. Orientasi penyelenggaran penddidikan terutama bagi pendidikan dasar sejatinya harus berangkat dan kembali pada landasan filosofis dan hakekat pendidikan dasar. Pendidikan dasar pada hakikatnya merupakan pendidikan umum yang berupaya membekali peserta didiknya dengan penanaman dan pembinaan aspek kepribadian, watak dan karakter. Kemampuan intelektual hanya sebagai peletak dasar, yaitu dengan memperkenalkan seperangkat pengetahuan dasar dan keterampilan dasar sebagai bekal mereka melanjutkan pada jenjang pendidikan berikutnya. Mengabaikan prinsip dan tujuan pada jenjang pendidikan ini tentu akan mengaburkan bahkan menjauhkan dari pencapaian arah dan tujuan diselenggarakannya pendidikan dasar.

Dengan memahami landasan filosofis dan orientasi penyelenggaran pendidikan dasar, guru selanjutnya diharapkan mampu bersikap dan bertindak secara bijak sesuai dengan tugas dan kebutuhan anak didiknya. Melalui penanaman dan pembinaan kepribadian dan karakter, anak akan memiliki kesempatan untuk berkembang dalam lingkungan yang kaya variasi untuk menjadi anak yang disiplin, memahami hak dan kewajiban serta bertanggungjawab, memiliki empati dan kepedulian sosial yang tinggi.